Portal Resmi
Logo LDII Bali

DPW LDII Provinsi Bali

Web Portal Resmi

<- Kembali ke daftar beritaHardiknas 2026 Tegaskan Pendidikan Bermakna melalui Asah Asih Asuh dan Kolaborasi
ArtikelWawasanTahukah AndaArticle

Hardiknas 2026 Tegaskan Pendidikan Bermakna melalui Asah Asih Asuh dan Kolaborasi

Dipublikasikan 06 Mei 2026

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi pengingat akan pentingnya memahami kembali hakikat pendidikan di Indonesia.

Dalam pidatonya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses memanusiakan manusia yang dilaksanakan secara tulus dan penuh kasih sayang, serta bertujuan menumbuhkembangkan potensi dan fitrah peserta didik.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara melalui sistem among, yaitu asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan). Pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, akhlak dan peradaban bangsa sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Lebih lanjut, pemerintah menekankan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat terwujud tanpa 3M sebagai fondasi utama, yaitu mindset (pola pikir maju), mental (ketangguhan), dan misi (tujuan yang lurus). Tanpa ketiganya, berbagai kebijakan pendidikan berisiko hanya menjadi formalitas tanpa memberikan dampak nyata.

Hardiknas 2026 juga menyoroti pentingnya kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan. Integrasi antara sekolah, keluarga, masyarakat dan media menjadi kunci dalam menciptakan pendidikan yang inklusif dan bermutu. Hal ini tercermin dalam berbagai upaya pemerintah, mulai dari penguatan pembelajaran mendalam _(deep learning)_ , digitalisasi pendidikan, hingga peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.

Semangat tersebut juga tercermin dalam pelaksanaan upacara Hardiknas 2026 yang dipusatkan di Banyuwangi, Jawa Timur, tempat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyampaikan pidatonya. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya memadukan kearifan lokal dengan kemajuan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya setempat, melainkan harus tumbuh selaras dengan nilai-nilai lokal.

Ketua DPW LDII Bali, Olih Solihat Karso, menegaskan bahwa pendidikan bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Mengutip filosofi Ki Hajar Dewantara, ia mengatakan, _“Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.”_

Ia menambahkan, guru, murid, orang tua, pemerintah, hingga masyarakat harus berjalan bersama sebagai satu kesatuan dalam membangun pendidikan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsep merdeka belajar bukan berarti kebebasan tanpa arah. “Merdeka belajar artinya murid diberi ruang untuk mengetahui minatnya, guru diberi ruang untuk berinovasi, dan sekolah diberi ruang untuk menyesuaikan dengan konteks lokal,” ujarnya. Ia mencontohkan penerapannya di Bali melalui penguatan nilai menyama braya dan pembelajaran aksara Bali.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan pesan kepada para guru, “Terima kasih telah menjadi obor di tengah era kecerdasan artifisial. Peran guru tidak tergantikan dalam memberikan keteladanan.”

Kepada orang tua dan masyarakat, ia mengingatkan bahwa rumah adalah ruang kelas pertama bagi anak. “Dukung anak dalam prosesnya, bukan sekadar menuntut hasil atau menunjukkan peringkat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dalam mendidik anak serta perlunya kerja sama semua pihak. Menurutnya, tantangan seperti learning loss menuntut terbentuknya “super tim” dalam dunia pendidikan.

Hardiknas 2026 pun menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan usaha bersama untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan tangguh. Dengan semangat kolaborasi dan komitmen yang kuat, pendidikan diharapkan terus berkembang menuju Indonesia yang cerdas, maju dan bermartabat.

“Dirgahayu Pendidikan Indonesia. Teruslah menyala, belajar dan belajar—merdeka.”