Portal Resmi
Logo LDII Bali

DPW LDII Provinsi Bali

Web Portal Resmi

<- Kembali ke daftar beritaKetua Umum DPP LDII: Haji Mabrur Harus Jadi Penggerak Perubahan Sosial
ArtikelBeritaAgenda KegiatanBerita NasionalBerita DaerahBerita Kegiatan

Ketua Umum DPP LDII: Haji Mabrur Harus Jadi Penggerak Perubahan Sosial

Dipublikasikan 24 Juni 2026

Jakarta, 24 Juni 2026 — Kepulangan jemaah haji ke tanah air tidak semestinya berhenti sebagai perjalanan spiritual pribadi. Bagi Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, haji mabrur harus menjadi titik awal lahirnya perubahan sosial di tengah masyarakat.

Menurut Dody, mereka yang memperoleh kemabruran haji memiliki tanggung jawab moral untuk membawa pengaruh positif, memperkuat keteladanan, dan ikut membangun peradaban bangsa.

“Jika kita tarik benang merah sejarah, para tokoh bangsa sepulang dari tanah suci kerap membawa spirit perubahan. Ibadah haji pada masa lalu menjadi katalisator perjuangan kemerdekaan, mencerdaskan bangsa, sekaligus mengikis kolonialisme,” ujar Dody di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan, sejarah mencatat para haji pada masa perjuangan tidak hanya kembali dengan pengalaman ibadah, tetapi juga membawa pemikiran baru yang progresif. Mereka menjadi bagian dari motor perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus pembaharu kehidupan sosial dan keagamaan.

Dody menilai, semangat tersebut perlu dikontekstualisasikan pada masa kini. Menurutnya, kemabruran haji harus tercermin dalam kemampuan seseorang untuk berubah ke arah yang lebih baik, berpikir lebih maju, serta meningkatkan ketakwaan.

Dalam konteks pergantian tahun Hijriah, kata Dody, semangat itu sejalan dengan makna hijrah, yakni berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik, baik secara personal maupun sosial.

“Haji yang mabrur tidak boleh berhenti pada kesalehan individu. Ia harus hadir di tengah masyarakat, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial,” tegasnya.

DPP LDII menekankan, peran para haji dalam pembangunan peradaban bangsa setidaknya dapat diwujudkan melalui tiga hal. Pertama, menjadi pendidik sekaligus penggerak moral dan etika, terutama dalam memberi teladan kejujuran, amanah, dan integritas.

Kedua, menjadi perekat sosial yang menghadirkan kesejukan, menguatkan toleransi, serta meredam polarisasi di masyarakat. Ketiga, berkontribusi dalam penguatan ekonomi umat melalui zakat, infak, sedekah, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan serta kebodohan.

Dody meyakini, apabila setiap tahun ratusan ribu jemaah haji Indonesia kembali dengan komitmen perubahan sosial, hal itu akan menjadi modal sosial yang besar bagi bangsa. Menurutnya, para haji dapat menjadi kekuatan moral dalam membangun Indonesia yang maju, religius, dan berkeadaban.

Pandangan senada disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Aini sekaligus anggota Majelis Pakar DPP LDII, KH Aceng Karimullah. Ia mengatakan, ibadah haji pernah memiliki peran penting dalam mendorong perubahan di Indonesia, terutama pada awal abad ke-20.

Pada masa itu, menurut KH Aceng, ibadah haji menjadi semacam ruang pertemuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Para jemaah tidak hanya beribadah, tetapi juga bertemu, berdiskusi, dan bertukar gagasan mengenai kondisi umat.

“Orang-orang yang memiliki minat yang sama akan bertemu saat haji, termasuk mereka yang punya perhatian pada perjuangan umat Islam. Di sana mereka mencari teman diskusi dan membangun jaringan,” ujar KH Aceng.

Ia menjelaskan, para jemaah haji yang memiliki latar belakang politik pada masa kolonial kerap pulang dengan semangat yang lebih kuat untuk memperjuangkan nasib bangsanya. Karena itu, pemerintah Belanda pada masa itu mengawasi orang-orang yang pulang dari tanah suci dan memberi mereka gelar haji.

Namun, bagi mereka yang berangkat semata-mata untuk ibadah, kata KH Aceng, kepulangan dari tanah suci biasanya membuat mereka semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah.

KH Aceng juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa balasan haji mabrur adalah surga. Ketika ditanya mengenai tanda kemabruran haji, Rasulullah menjelaskan bahwa kemabruran tercermin dalam tutur kata yang lebih santun dan kegemaran memberi makan.

Dalam konteks saat ini, menurut KH Aceng, pesan tersebut menunjukkan bahwa haji mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang semakin kuat solidaritas sosialnya, lebih empati, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Para ulama tafsir menjelaskan, haji yang mabrur terlihat dari sikap seseorang setelah pulang haji. Dalam urusan dunia ia lebih wira’i, lebih zuhud, dan lebih berhati-hati, terutama terhadap perkara haram maupun syubhat. Sementara dalam urusan akhirat, ia semakin bersemangat,” paparnya.

KH Aceng menambahkan, transformasi kehidupan umat Islam tidak hanya lahir dari ibadah haji. Seluruh ibadah dalam rukun Islam, bila dihayati dengan benar, dapat mendorong perbaikan akhlak dan kemajuan masyarakat.

“Dari salat saja, akhlak seseorang bisa menjadi lebih baik bila ia benar-benar menghayatinya. Puasa juga demikian, dapat membuat orang lebih sabar dan semakin menjauh dari perkara yang haram,” pungkasnya.