Portal Resmi
Logo LDII Bali

DPW LDII Provinsi Bali

Web Portal Resmi

<- Kembali ke daftar berita71 Tahun Konferensi Asia Afrika, Tonggak Solidaritas Dunia dari Bandung
ArtikelRenunganArticle

71 Tahun Konferensi Asia Afrika, Tonggak Solidaritas Dunia dari Bandung

Dipublikasikan 19 April 2026

Tanggal 18 April diperingati sebagai Hari Konferensi Asia Afrika (KAA), sebuah momentum bersejarah yang menandai lahirnya semangat persatuan negara-negara Asia dan Afrika dalam melawan kolonialisme. Pada tahun 2026 ini, peringatan tersebut genap berusia 71 tahun sejak pertama kali diselenggarakan di Bandung pada 1955.

Mengacu pada data dari Museum Konferensi Asia Afrika, konferensi berlangsung pada 18 hingga 24 April 1955 dan diikuti oleh 29 negara yang mewakili lebih dari setengah populasi dunia saat itu. Pertemuan ini menjadi wadah bagi negara-negara berkembang untuk menyuarakan kepentingan bersama di tengah situasi global yang penuh ketegangan.

Latar Belakang dan Gagasan Awal

Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945 tidak serta-merta menciptakan stabilitas dunia. Berbagai konflik masih terjadi, terutama di wilayah Asia dan Afrika yang masih dibayangi praktik kolonialisme sejak abad ke-15. Meski sejumlah negara Asia telah merdeka, perjuangan di Afrika masih berlangsung di berbagai wilayah.

Situasi global semakin kompleks dengan munculnya dua kekuatan besar, yakni Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah Uni Soviet dalam era Perang Dingin. Ketegangan ini diperparah dengan perlombaan senjata nuklir, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa dinilai belum mampu menjadi penengah yang efektif.

Dalam kondisi tersebut, muncul gagasan untuk mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika dalam satu forum bersama. Gagasan ini mulai dibahas dalam Konferensi Kolombo pada April 1954. Indonesia, melalui Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, mengusulkan penyelenggaraan konferensi yang lebih luas.

Persiapan hingga Pelaksanaan

Sebagai langkah awal, Indonesia menggelar pertemuan di Wisma Tugu, Puncak, pada Maret 1954 untuk merumuskan konsep konferensi. Usulan tersebut mendapat dukungan luas dari negara-negara Asia dan Afrika.

Tahap penting berikutnya adalah Konferensi Bogor yang menghasilkan kesepakatan mengenai tujuan, agenda, serta daftar negara yang akan diundang. Lima negara penggagas KAA adalah Indonesia, India, Pakistan, Burma (Myanmar), dan Ceylon (Sri Lanka).

Pemerintah Indonesia kemudian mempersiapkan pelaksanaan konferensi secara matang. Gedung Concordia di Bandung diubah menjadi Gedung Merdeka sebagai lokasi utama, sementara berbagai fasilitas lain disiapkan untuk menampung sekitar 1.500 peserta.

Pelaksanaan dan Hasil Konferensi

Konferensi Asia Afrika resmi berlangsung di Bandung pada 18–24 April 1955. Pertemuan ini berfokus pada kerja sama ekonomi dan budaya, serta penolakan terhadap segala bentuk kolonialisme.

Salah satu hasil terpenting dari konferensi ini adalah lahirnya Dasasila Bandung pada 24 April 1955. Prinsip tersebut menjadi pedoman dalam hubungan internasional yang menekankan penghormatan terhadap kedaulatan, penyelesaian konflik secara damai, serta penolakan terhadap intervensi dan dominasi kekuatan besar.

Sepuluh prinsip Dasasila Bandung meliputi penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan negara, persamaan derajat, tidak mencampuri urusan dalam negeri, hingga penyelesaian sengketa secara damai dan penguatan kerja sama internasional.

Makna Peringatan

Peringatan Hari Konferensi Asia Afrika setiap 18 April menjadi pengingat pentingnya solidaritas global, khususnya bagi negara-negara berkembang. Semangat yang lahir dari Bandung tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi dalam menghadapi tantangan dunia modern.

Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Konferensi Asia Afrika merupakan simbol keberanian negara-negara Asia dan Afrika dalam menentukan arah masa depan mereka sendiri di tengah tekanan kekuatan global.

Sumber : detik.jabar, rri.co.id