
Hari Posyandu 2026, Bali Optimalkan Layanan melalui Pelatihan dan Penguatan Kader
Dipublikasikan 29 April 2026
Denpasar – Peringatan Hari Posyandu Nasional yang jatuh setiap 29 April kembali menjadi momentum penting untuk menegaskan peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai garda terdepan layanan kesehatan masyarakat.
Pada tahun 2026, upaya penguatan tersebut terlihat nyata, khususnya di Provinsi Bali melalui berbagai langkah strategis dan inovatif.
Hari Posyandu tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi momen evaluasi sekaligus apresiasi bagi para kader yang selama ini berperan aktif dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita. Keberadaan Posyandu dinilai tetap relevan dalam menekan angka kematian ibu dan anak serta mendukung percepatan penanganan stunting di Indonesia.
Di Bali, komitmen penguatan Posyandu ditunjukkan melalui inisiatif yang digagas tokoh penggerak kesejahteraan keluarga, Putri Koster. Ia merancang 18 program strategis Posyandu tahun 2026 yang tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan dasar, tetapi juga pengembangan Posyandu sebagai pusat edukasi gizi, pola asuh anak, serta peningkatan kesejahteraan keluarga secara terpadu.
Sebagai bagian dari peringatan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali menggelar “Kegiatan Bina Posyandu Tahun 2026”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 April 2026, bertempat di UPTD Bapelkesmas Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Para kader mendapatkan pelatihan intensif, evaluasi program, serta penguatan kapasitas guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan di masyarakat.
Koordinator Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPW LDII Bali, Hj. Ni Made Winiati, menegaskan bahwa kader Posyandu memiliki peran utama sebagai pelaksana pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa dan kelurahan. “Kader Posyandu menjalankan sistem lima meja, yaitu pendaftaran, penimbangan atau pengukuran, pencatatan, penyuluhan, serta pelayanan kesehatan seperti imunisasi dan pemberian vitamin A,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kader Posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat yang berperan sebagai penggerak, penyuluh, dan pelaksana layanan, khususnya bagi ibu hamil, bayi, balita, hingga lansia.
Senada dengan itu, anggota Biro PKK, Nurul Asmi Hidayah, S.Pd.I, yang telah mengabdikan diri sebagai kader sejak 1996, menyampaikan bahwa peran kader kini semakin luas. “Kader Posyandu tidak hanya melayani penimbangan ibu hamil dan balita, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP), yang menjangkau seluruh siklus hidup, mulai dari bayi hingga lansia,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa transformasi Posyandu menuju Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) atau layanan terpadu mencakup berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat (trantibumlinmas), dan sosial.
Menurutnya, kader Posyandu juga memiliki peran penting dalam upaya penurunan stunting. Oleh karena itu, kader dituntut memiliki kepedulian sosial yang tinggi serta terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu memberikan pelayanan yang optimal.
Melalui sinergi antara program strategis dan pembinaan kader yang berkelanjutan, Posyandu di Bali diharapkan mampu berkembang menjadi pusat layanan terpadu yang lebih optimal dan berdampak luas.
Peringatan Hari Posyandu Nasional 2026 pun menjadi penegasan bahwa peningkatan kualitas kesehatan masyarakat harus terus dilakukan secara berkelanjutan demi menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Posyandu Kuat, Masyarakat Sehat, Indonesia Hebat.
Sumber: Balipolitika
Instagram: @tpposyandubali
